Rabu, 29 Agustus 2012
IKHWAN APA BAKWAN?!
Oh…. Ikhwan
Apa bedanya dengan si Marwan
Si Ali, Paijo atau si Iwan
Oh ternyata cuma sebutan
Oh…. Ikhwan
Walaupun tidak rupawan
Alias modal tampang pas-pasan
Tetep aja tebar senyuman
Oh…. Ikhwan
Gayanya sih bisa ketebak & kelihatan
Jenggot melambai,baju koko & sendal jepit usang
Sesekali komat-kamit sambil jalan
Oh…. Ikhwan
Nyarinya susah-susah gampang
Kadang di masjid, kampus or sekolahan
Mungkin juga lagi nyari sampingan
Nggak taunya buat biaya walimahan :)
Oh…. Ikhwan
Anehnya kalo lagi jalan
Ngukurin tanah apa ngitung lantai sih, wan?
Oh….. ternyata dia jaga pandangan !!!
Ikhwan… Ikhwan…
Lucunya kalo akhwat sedang berpapasan
Langsung minggir! , acuh tak acuh kaya’ musuhan
(Gubrak…!!!!! apaan tuh, wan?)
Eh…. dia jatuh, kagak ngeliat ada selokan :) )
Oh…. Ikhwan, apa semuanya begitu, wan ?
Ada nggak yang masih tebar pesona & jelalatan ?
Berarti itu bukan ikhwan, (kan cuma sebutan ?!!)
Nah para akhwat, hati-hati mungkin dia nyari
pasangan
Senin, 20 Agustus 2012
Arti Cinta ^_^
Rasa cinta yang hadir tanpa diundang dan pergi pun tiada direncanakan..
Orang bilang mencintai adalah pilihan karena diri kita yang memilihnya untuk kita cintai dengan segenap kelebihan dan kekurangannya . .
Namun mencintai juga sebuah
keputusan karena diri kita yang memutuskan untuk mencintainya. ..
Mencintai orang dengan segenap kelebihannya itu mudah dilakukan karena itu yang kita inginkan. . .
Namun tetap bertahan dan mencintai dengan segenap kekurangan itu baru luar biasa karena banyak tantangan di sana. . .
Mencintai adalah keputusan besar, karena ada taruhan kepribadian di sana. Sekali kita berucap aku mencintaimu berarti kita harus membuktikan. Sekali kita berucap namun tak ada bukti hilanglah kepercayaan itu.
Aku mencintaimu adalah ungkapan lain dari aku ingin memberimu sesuatu, aku ingin memperhatikanmu, aku ingin engkau tumbuh dan berkembang lebih baik dan bahagia....
Aku mencintaimu adalah deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan tertarik tapi tentang kerelaan,kesiapan dan kemampuan memberi , berkorban , memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi agar tunas- tunas cinta itu tumbuh dan bersemi sepanjang waktu. . .
Aku mencintaimu adalah sebuah perjuangan harus ada saling kepercayaan dan rasa saling menjaga agar hati tidak terkhianati. . .
Aku mencintaimu adalah keputusan besar untuk segera menghalalkan rasa itu melalui ikatan suci pernikahan...
Andaikan cinta tiada sanggup dijadikan halal lebih baik tinggalkan karena hanya akan menambah derita bagi hati yang terjaga. . .
Pernah suatu ketika diri ini bertanya pada seorang sahabat...
Duhai sahabatku, bagaimana engkau memandang cinta?
Dia berkata : “ Aku ibarat botol.... Tak kan kubuka tutup botol ini apabila aku tak sanggup menutupnya kembali”. Demikian juga dengan cinta. Aku tak akan pernah membuka hati apalagi mengucapkan cinta kepada siapapun sebelum diri ini mampu menghalalkan cinta itu. . .
Subhanallah...!
Jumat, 17 Agustus 2012
Separuh_Aku
Dan terjadi lagi
Kisah lama yang terulang kembali
Kau temukan lagi Dari cinta rumit yang kau jalani
Aku ingin kau merasa
Kamu mengerti aku mengerti kamu
Aku ingin kau sadari Cintamu bukanlah dia
Dengar laraku
Suara hati memanggil namamu
Karena separuh aku
Dirimu
Ku ada disini
Pahamilah kau tak pernah sendiri
Karena aku selalu
Di dekatmu saat engkau terjatuh
Aku ingin kau merasa Kamu mengerti
aku mengerti kamu
Aku ingin kau sadari Cintamu bukanlah dia
Dengar laraku
Suara hati memanggil namamu
Karena separuh aku Dirimu
Dengar laraku
Suara hati ini memanggil namamu
Karena separuh aku
Menyentuh laramu
Semua lukamu telah menjadi lirihku
Karena separuh aku
Dirimu
Kamis, 16 Agustus 2012
Menghargai Orang Lain
Dikisahkan, di sebuah pesta perpisahan sederhana pengunduran diri seorang direktur. Diadakan sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan, dan kritikan dari anak buah kepada mantan atasannya yang segera memasuki masa pensiun dari perusahaan tersebut.
Karena waktu yang terbatas, kesempatan tersebut dipersilahkan dinyatakan dalam bentuk tulisan. Di antara pujian dan kesan yang
diberikan, dipilih dan dibingkai untuk diabadikan kemudian dibacakan di acara tersebut, yakni sebuah catatan dengan gaya tulisan coretan dari seorang office boy yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu.
Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut, "Yang terhormat Pak Direktur. Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan kata "tolong", setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah tanggung jawab saya. Terima kasih Pak Direktur karena Bapak telah mengucapkan "maaf", saat Bapak menegur, mengingatkan dan berusaha memberitahu setiap kesalahan yang telah diperbuat karena Bapak ingin saya merubahnya menjadi kebaikan.
Terima kasih Pak Direktur karena Bapak selalu mengucapkan "terima kasih" kepada saya atas hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk Bapak. Terima kasih Pak Direktur atas semua penghargaan kepada orang kecil seperti saya sehingga saya bisa tetap bekerja dengan sebaik-baiknya, dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan dikecilkan. Dan sampai kapan pun bapak adalah Pak Direktur buat saya. Terima kasih sekali lagi. Semoga Tuhan meridhoi jalan dimanapun Pak Direktur berada. Aamiin."
Setelah sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu, serentak tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Diam-diam Pak Direktur mengusap genangan airmata di sudut mata tuanya, terharu mendengar ungkapan hati seorang office boy yang selama ini dengan setia melayani kebutuhan seluruh isi kantor.
Pak Direktur tidak pernah menyangka sama sekali bahwa sikap dan ucapan yang selama ini dilakukan, yang menurutnya begitu sederhana dan biasa-biasa saja, ternyata mampu memberi arti bagi orang kecil seperti si office boy tersebut. Terpilihnya tulisan itu untuk diabadikan, karena seluruh isi kantor itu setuju dan sepakat bahwa keteladanan dan kepemimpinan Pak Direktur akan mereka teruskan sebagai budaya di perusahaan itu.
Pembaca Yang Budiman,
Tiga kata "terimakasih, maaf, dan tolong" adalah kalimat pendek yang sangat sederhana tetapi mempunyai dampak yang positif. Namun mengapa kata-kata itu kadang sangat sulit kita ucapkan? Sebenarnya secara tidak langsung telah menunjukkan keberadaban dan kebesaran jiwa sosok manusia yang mengucapkannya. Apalagi diucapkan oleh seorang pemimpin kepada bawahannya.
Pemimpin bukan sekedar memerintah dan mengawasi, tetapi lebih pada sikap keteladanan lewat cara berpikir, ucapan, dan tindakan yang mampu membimbing, membina, dan mengembangkan yang dipimpinnya sehingga tercipta sinergi dalam mencapai tujuan bersama.
Tentu bagi siapapun kita perlu membiasakan mengucapkankata-kata pendek seperti terima kasih, maaf, dan tolong dimana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun kita berhubungan. Dengan mampu menghargai orang lain minimal kita telah menghargai diri kita sendiri.
Sikap Tanggung Jawab
Dikisahkan, sebuah keluarga mempunyai anak semata wayang. Ayah dan ibu sibuk bekerja dan cenderung memanjakan si anak dengan berbagai fasilitas. Hal tersebut membuat si anak tumbuh menjadi anak yang manja, malas, dan pandai berdalih untuk menghindari segala macam tanggung jawab.
Setiap kali si ibu menyuruh membersihkan kamar atau sepatunya sendiri, ia dengan segera menjawab
, "Aaaah Ibu. Kan ada si bibi yang bisa mengerjakan semua itu. Lagian, untuk apa dibersihkan, toh nanti kotor lagi." Demikian pula jika diminta untuk membantu membersihkan rumah atau tugas lain saat si pembantu pulang, anak itu selalu berdalih dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal.
Ayah dan ibu sangat kecewa dan sedih melihat kelakuan anak tunggal mereka. Walaupun tahu bahwa seringnya memanjakan anaklah yang menjadi penyebab sang anak berbuat demikian. Mereka pun kemudian berpikir keras, bagaimana cara merubah sikap si anak? Mereka pun berniat memberi pelajaran kepada anak tersebut.
Suatu hari, atas kesepakatan bersama, uang saku yang rutin diterima setiap hari, pagi itu tidak diberikan. Si anak pun segera protes dengan kata-kata kasar, "Mengapa Papa tidak memberiku uang saku? Mau aku mati kelaparan di sekolah ya?"
Sambil tersenyum si ayah menjawab, "Untuk apa uang saku, toh nanti habis lagi?"
Demikian pula saat sarapan pagi, dia duduk di meja makan tetapi tidak ada makanan yang tersedia. Anak itu pun kembali berteriak protes, "Ma, lapar nih. Mana makanannya? Aku buru-buru mau ke sekolah."
"Untuk apa makan? Toh nanti lapar lagi?" jawab si ibu tenang.
Sambil kebingungan, si anak berangkat ke sekolah tanpa bekal uang dan perut kosong. Seharian di sekolah, dia merasa tersiksa, tidak bisa berkonsentrasi karena lapar dan jengkel. Dia merasa kalau orangtuanya sekarang sudah tidak lagi menyayanginya.
Pada malam hari, sambil menyiapkan makan malam, sang ibu berkata, "Anakku. Saat akan makan, kita harus menyiapkan makanan di dapur. Setelah itu, ada tanggung jawab untuk membersihkan perlengkapan kotor. Tidak ada alasan untuk tidak mengerjakannya dan akan terus begitu selama kita harus makan untuk kelangsungan hidup. Sekarang makan, besok juga makan lagi. Hari ini mandi, nanti kotor, dan harus juga mandi lagi. Hidup adalah rangkaian tanggung jawab, setiap hari harus mengulangi hal-hal baik. Jangan berdalih, tidak mau melakukan ini itu karena dorongan kemalasan kamu. Ibu harap kamu mengerti."
Si anak menganggukkan kepala, "Ya Ayah-Ibu, saya mulai mengerti. Saya juga berjanji untuk tidak akan mengulangi lagi."
------------------
Dalam kehidupan, kita selalu memikul tanggung jawab. Sedari kecil, remaja, dewasa, hingga tua, kita akan terus menerus melakukan aktivitas-aktivitas kecil maupun besar sebagai bentuk kewajiban yang kita emban. Dan, jika kita mengabaikannya, dampak negatif akan kita rasakan.
Karena itu, hanya dengan selalu melakukan kebiasaan positif, dengan kesadaran penuh dan dilakukan secara terus menerus, maka sikap tanggung jawab akan menjadi ciri khas kita yang dapat membawa diri pada kehidupan yang lebih baik dan lebih bermutu.
Salam sukses, luar biasa!
Makna Sebuah Pekerjaan
Terdapat seorang Ayah dalam sebuah keluarga. Ia adalah seorang pekerja keras yang mencukupi seluruh kebutuhan hidup bagi istri dan ketiga anaknya. Ia menghabiskan malam sesudah bekerja dengan menghadiri kursus-kursus, untuk mengembangkan dirinya dengan harapan suatu hari nanti dia bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih baik. Kecuali hari Minggu, sang Ayah sangat
susah untuk bisa makan bersama-sama keluarganya. Dia bekerja dan belajar sangat keras karena dia ingin menyediakan keluarganya apa saja yang bisa dibeli dengan uang.
Setiap kali keluarganya mengeluh kalau dia tidak punya cukup waktu dengan mereka, dia selalu beralasan bahwa semuanya ini dilakukan untuk mereka. Tetapi seringkali juga, dia sangat berkeinginan untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya.
Suatu hari tibalah saatnya hasil ujian diumumkan. Dengan sangat gembira, sang Ayah ini lulus, dengan prestasi gemilang pula! Segera sesudah itu, dia ditawarkan posisi yang baik sebagai Senior Supervisor dengan gaji yang menarik.
Seperti mimpi yang menjadi kenyataan, sekarang sang Ayah mampu memberikan keluarganya kehidupan yang lebih mewah, seperti pakaian yang indah-indah, makanan-makanan enak dan juga liburan ke luar negeri.
Namun, keluarganya masih saja tidak bisa bertemu dengan sang Ayah hampir dalam seluruh minggu. Dia terus berkerja sangat keras, dengan harapan bisa dipromosikan ke jabatan Manager. Nyatanya, untuk membuat dirinya calon yang cocok untuk jabatan itu, dia mendaftarkan diri pada kursus lain di Universitas Terbuka.
Lagi, setiap saat keluarganya mengeluh kalau sang Ayah tidak menghabiskan cukup waktu untuk mereka, dia beralasan bahwa dia melakukan semua ini demi mereka.
Tetapi, seringkali lagi dia sangat berkeinginan untuk menghabiskan lebih banyak waktu lagi dengan keluarganya.Kerja keras Sang Ayah berhasil dan dia dipromosikan. Dengan penuh sukacita, dia memutuskan untuk memperkerjakan seorang pembantu untuk membebaskan istrinya dari tugas-tugas rutinnya. Dia juga merasa kalau flat dengan tiga kamar sudah tidak cukup besar lagi, akan sangat baik untuk keluarganya bisa menikmati fasilitas dan kenyamanan sebuah kondominium.
Setelah merasakan jerih payah kerja kerasnya selama ini, sang Ayah memutuskan untuk lebih jauh lagi belajar dan bekerja supaya bisa dipromosikan lagi. Keluarganya masih tidak bisa sering bertemu dengan dia. Kenyataannya, kadang-kadang sang Ayah harus bekerja di hari Minggu untuk menemani tamu-tamunya.
Lagi, setiap kali keluarganya mengeluh kalau dia tidak menghabiskan cukup waktu dengan mereka, dia beralasan kalau semua ini dilakukan demi mereka.
Tetapi, seringkali lagi dia sangat berkeinginan untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarganya.
Seperti yang diharapkan, kerja keras sang Ayah berhasil lagi dan dia membeli sebuah kondominium yang indah yang menghadap ke pantai.
Pada malam pertama di rumah baru mereka, sang Ayah mengatakan kepada keluarganya bahwa dia memutuskan untuk tidak mau mengambil kursus dan mengejar promosi-promosi lagi.
Sejak saat itu dia ingin memberikan lebih banyak waktu lagi untuk keluarganya.
Namun, sang Ayah tidak bangun-bangun lagi keesokan harinya.
Pertanyaan untuk direnungkan:
Apakah anda bekerja untuk hidup atau hidup untuk bekerja?
(Anonim)
Pesan Ibu
Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan, seorang anak penjaja kue menghampirinya, "Om, beli kue om, masih hangat dan enak rasanya", "Nggak dik, saya lapar mau makan nasi saja." kata si pemuda menolak. Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.
Melihat si pemuda te
lah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, "tidak dik, saya sudah kenyang." Sambil berkukuh mengikuti si pemuda, si anak berkata, "Kuenya bisa buat oleh-oleh pulang om." Dompet yang belum sempat dimasukan ke kantong pun dibukanya kembali, dikeluarkan 2 lembar ribuan dan mengangsurkan ke anak penjual kue "Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya."
Dengan senang hati diterimanya uang itu dan bergegas dia ke luar restoran memberikannya kepada pengemis di depan restoran. Merasa heran dan sedikit tersinggung si pemuda menegurnya, "Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang, kenapa setelah uang ada di tanganmu malah kamu berikan ke orang lain?"
"Om jangan marah ya. Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan, bukan dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh Ibu saya sendiri dan Ibu pasti akan sedih dan marah, jika saya menerima uang dari om bukan hasil menjual kue. Tadi om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada pengemis itu." Si pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. "Baiklah, berapa banyak kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh." Si anak pun segera menghitung dengan gembira.
Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, "Terima kasih dik atas pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya kepada ibumu." Walaupun tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan si pemuda, dengan gembira diterimanya uang itu sambil berucap, "Terima kasih om. Ibu pasti akan senang sekali, hasil kerja kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami."
Pembaca yang budiman,
Dari hasil didikan seorang ibu yang luar biasa, lahirlah anak yang hebat! Walaupun mereka miskin harta, tetapi mereka kaya mental! Menyikapi kemiskinan bukan dengan mengemis dan minta belas kasihan dari orang lain tetapi dengan bekerja keras, membanting tulang. Karena sesungguhnya, KERJA ADALAH KEHORMATAN bagi setiap manusia!
bahkan kadang jiwa dan hatinya lebih halus dari wanita, tersembunyi di balik kegagahan wajahnya.
Mungkin ia tak pernah menampakan air mata itu...
tapi yakinlah di saat kita tidak tahu, di jejak dia berangkat kerja atau dalam duduk tafakur setelah sholatnya, kadang air mata itu tumpah.
Karena akal mendominasi jiwanya maka yang kita temukan hany
a ketegaran, tapi coba kita tengok matanya setelah ia sholat tahajud di kala malam, ada kilatan cahaya embun yang menetes dalam ketegaran, atau ketika dia tertunduk letih setelah berjam-jam mencari nafkah …
lihat sejenak mata itu, maka mata adalah cermin jiwa…
Maka menangislah Umar bin Khattab ketika mengetahui ada rakyatnya yang kelaparan, sementara kita tahu, bagaimana tegasnya sosok lelaki ini, tapi air matanya pun tumpah …..
Inilah Sosok Lelaki, sosok suami yang Allah menatapnya dengan kerinduan..
Mereka menjemput pagi dengan harapan
dan membawa malam dengan asa …..
Lihatlah Lelaki yang Allah Mengatakan lewat lisan Nabi kita..
“Barang siapa yang sore hari duduk kelelahan lantaran pekerjaan yang telah di lakukannya, maka dia dapatkan sore hari tersebut, dosa-dosanya di ampuni Allah” (HR.Thabrani)
Merekalah Lelaki Sholeh yang menumpahkan air matanya seraya lisan dan hatinya berdoa…
“Ya Rabbana, berikanlah kebaikan untuk Istri dan anak-anakku kelak ….. Jadikanlah Mereka semua Kesenanganku di Surga-Mu yang Indah …..”
Inilah Lelaki dan Suami Sholeh idaman bidadari tak hanya bidadari bumi tapi juga Bidadari Surga, yang mengintip Menanti.
Masya Allah..
☆◦◦°•♥°♥•**.. ATAS NAMA CINTA..**•♥°♥•°◦◦☆
>> Tulisan ini aku tujukan untukmu, juga untukku yang telah banyak -secara sadar dan tanpa sadar- telah melakukan banyak kesalahan dan kekeliruan. Atas Nama Cinta, ingatkan aku jika aku salah, bia
rkan aku sadar, agar kesalahan tidak jadi kebiasaan, agar setiap dosa tidak jadi membesar, agar aku tidak menganggap dosa itu wajar, sampai aku mencari alasan sebagai pembenar. Maka, itu pun yang aku lakukan padamu.. karena aku menginginkan kebaikan untukmu sebagaimana aku menginginkan kebaikan untukku<<
Aku memulai tulisan ini, atas nama cinta. Cinta kepadamu, yang membuatku ingin menuliskannya, menjelaskannya, mudah-mudahan kau mengerti.
Seiring berlalunya waktu, dalam lingkup pergaulan keluarga, kerabat, sahabat, perbedaan pendapat dan sudut pandang sering kali berbenturan yang terkadang melahirkan konflik. Konflik yang tidak semestinya ada, jika kita selalu mengembalikan setiap perselisihan kepada pedoman kita, Al-Qur’an, dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana yang dipahami oleh para sahabat, generasi awal yang mendapat pengajaran langsung dari manusia yang mulia, suri tauladan terbaik, Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Pada saat-saat seperti itu, aku terkadang mengatakan sesuatu yang tidak kau sukai. Mungkin karena kau tidak memahami, atau caraku yang keliru dan tidak memahami kondisimu. Dan mungkin terkesan memaksakan kehendak. Tetapi ketahuilah itu karena aku mencintaimu, karenanya aku berusaha menarik tanganmu, manahanmu, agar tidak terlena pada sesuatu yang dapat menjerumuskanmu dan mungkin akan kau sesali nanti.
Setelah mengalami begitu banyak pengalaman hidup, aku memahami satu hal. Persabahatan yang sangat berarti, bukan pada saat berbagi sedih dan bahagia, bukan hanya saling mendukung di saat susah dan senang. Akan tetapi seberapa perduli engkau, ketika sahabatmu melakukan kesalahan, dan dengan tegas mengatakan kepadanya, “berhentilah, karena kau telah keliru melangkah,” dan bukannya membelanya dan membiarkannya berlarut-larut dalam kesalahan sedangkan engkau mengetahuinya.
Cinta yang sebenarnya bukanlah kasih sayang menggebu, bunga dan puisi-puisi manis seperti yang dikisahkan pada roman-roman picisan. Cinta, menggerakkan seseorang untuk mencegah orang yang dicintainya untuk jatuh pada kesalahan yang dapat membinasakan dirinya. Cinta menggerakkan seseorang untuk terus mengarahkan orang yang dicintai, agar senantiasa berada dalam kebaikan – seperti seorang ibu yang terpaksa harus menghukum anaknya agar jera – meski untuk itu dia harus menerima kepahitan, karena kebenaran tidak selamanya dipahami sebagai sebuah kebaikan, ketika seseorang sedang terlena.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Seorang mukmin itu cermin bagi saudaranya, dan seorang mukmin adalah saudara bagi seorang mukmin lainnya, Membantu memperbaikinya dari kesalahannya dan memperhatikannya dari belakang.” (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahihah [6/923])
Terkadang aku harus menaris nafas dalam-dalam, agar sesak tidak lagi terlalu menghimpit, karena ada saat-saat di mana niat baik itu, usaha untuk menunjukkan kebaikan dan menjelaskan kesalahan, diartikan sebagai wujud kebencian, cemburu, hasad, dikomentari dengan sinis, seolah aku tidak suka melihatmu bersenang-senang dengan caramu meski sesaat. Sesuatu yang membuatku harus menghembuskan lagi nafas itu sekuat-kuatnya, agar tidak tertinggal perih yang membuatku berhenti mencintaimu. Aku ingin aku tak berhenti, karena aku berharap Allah akan ridha pada cinta karena Dia, dan merahmatiku dan dirimu dengan naungan di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, seperti yang dikatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
“Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada mesjid (selalu melakukan shalat jamaah di dalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk berzina), tapi ia mengatakan: Aku takut kepada Allah, seseorang yang memberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kanannya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kirinya dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata.” (Mutafaq alaihi)
Adalah tabiat manusia, yang selalu berkeluh kesah. Juga adalah tabiat manusia, pada satu keadaan, tak ingin terlihat salah sepenuhnya karena itu akan membuatnya terkesan rapuh, dan karenanya selalu berusaha mencari sebuah penjelasan, alasan, alibi, agar kesalahannya dapat diabaikan, dilupakan. Dan juga menjadi tabiat manusia, terkadang tidak rela menerima sebuah peringatan… nasihat, dari orang lain, terlebih jika yang mengatakannya adalah seorang yang menurutnya mempunyai ilmu lebih rendah, lebih muda usianya, dan lebih rendah kedudukannya. Hanya saja satu hal yang tidak pernah boleh diabaikan. Kebenaran adalah kebenaran, dari manapun dan dari siapapun datangnya. Seseorang yang lebih muda, lebih rendah kedudukannya tidak membatalkan kebenaran. Sesuatu tidak menjadi benar karena dikatakan oleh seseorang atau sekelompok orang tertentu. Akan tetapi kebenaran adalah sesuatu yang didukung dengan ilmu, dengan dalil.
Jika aku menyampaikan sesuatu padamu, bukan berarti aku lebih baik darimu. Tidak! Akan tetapi aku ingin, berharap, suatu saat nanti bila aku keliru melangkah, ada seseorang yang perduli mengawasiku, memanggilku, menarik tanganku, dan mengajakku untuk kembali kepada jalan yang lurus, karena dia mencintai untukku kebaikan, sebagaimana dia mencintai kebaikan untuk dirinya. Karena aku, dan dia, sama-sama menginginkan keiman sejati, sebagaimana sabda kekasih yang mulia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
“Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dari Anas radhiallahu anhu)
Sungguh, aku ingin menjadi seseorang yang benar-benar memiliki keimanan di dalam hati. Dan aku yakin kau pun begitu. Aku mencintai kebaikan untuk diriku, dan menginginkan kebaikan yang sama pada dirimu pula. Aku menginginkan keselamatan dari murka Allah untuk diriku, dan mencintai untukmu keselamatan yang sama. Aku mencintai surga, sebagaimana aku juga menginginkan surga bagimu. Semoga dengan begitu kita bisa bersama-sama saling mengingatkan, tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, merentas jalan untuk meraihnya. Karena untuk berjalan seorang diri itu teramat sulit, bahkan bisa jadi mustahil. Sedangkan musuh kita, syaithan dari golongan jin dan manusia, bersatu padu, memanggil-manggil dengan pesona kelembutan dan daya tariknya, setiap saaat berusaha mengalihkan jalan kita pada kebinasasaan. Sungguh, kau… dan aku. membutuhkan orang lain untuk selalu saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan taqwa dalam meniti jalan ini.
Karenanya jika ada di antara ucapan atau cara bersikapku yang tidak berkenan bagimu, tolong maafkan, dan yakinlah, sesungguhnya aku melakukannya atas nama cinta, kecintaan kepada saudaraku seiman, dalam islam dan sunnah, agar selalu bersama-sama dalam kebaikan. Karenanya sungguh aku ingin mengatakan ini:
إنيى أحبك في الله
“Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah”.
Dan membalas orang-orang yang mencitaiku karena Allah dengan doa:
أَحَبَّكَ الَّذِيْ أَحْبَبْتَنِي لَهُ
“Semoga Allah mencintai kamu yang cinta kepadaku karenaNya.”
HR Abu Dawud, 4/133, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
Akhwatku Sayang,
Tempat yang suci dijadikan medan pertandingan,
dengan pameran busana yang memukau,
gandingan fesyen dan warna yang garang, takkan terlepas dari lirikan mata yang memandang.
Siapa yang lagi menarik?
Siapa yang lagi cantik?
Siapa yang lagi ramai peminat?
Luar biasa
Akhawatku Sayang,
Cantiknya wanita itu,
bukan karena ramainya lelaki yang memujamu.
Cantiknya wanita itu,
bukan karena cantik dan mahalnya pakaian yang menutup auratmu.
Cantiknya wanita itu,
bukan karena manjanya nada suaramu.
Cantiknya wanita itu,
bukan karena kelembutan yang bukan pada tempatmu.
Cantiknya wanita itu,
bukan karena keberanian yang salah di sisi agamamu.
Namun Akhawatku Sayang,
Cantiknya wanita itu terletak
pada bibirmu yang selalu berzikir,
pada mukamu yang bersinar dengan cahaya wudhuk,
pada hatimu yang penuh rahmah dan taqwa,
pada pendirianmu yang tak goyah,
memperjuangkan agamamu,
yang semakin hari semakin tenat,
kerana madrasah utama ummah,
hilang arah dan tujuan kehidupan.
Akhawatku Sayang,
Mengapa harus berbangga diri,
Tiada yang tinggal dalam jasadmu,
kecuali rohmu yang suci,
janganlah engkau kotorkan dengan palitan nafsu.
Yang menjadi pinjaman pasti akan dipulangkan,
kepada Pemiliknya kelak.
Akhawatku Sayang,
Sudah engkau menjadi amaran fitnah,
yang sudah termaktub sejak beribu tahun dahulu.
Apakah engkau sanggup merealisasikan
sebuah fitnah,
yang mampu menggoncang keimanan
setiap yang bernama lelaki?
Akhawatku Sayang,
Bukan diskriminasi Allah,
yang menciptakanmu sedemikian,
karena engkau ibarat mutiara yang bernilai.
Yang sewajarnya dijaga rapi setiap ketika.
Selayaknya simpanlah kecantikanmu kepada yang layak engkau pamerkan.
Bahkan pahala yang bakal dikurnia,
jika diberi pada tempatnya dan tepat orangnya
setuju???
Langganan:
Komentar (Atom)